19 Februari 2013 11:19 wib
Aku dan Kemudiku

Perjalananku hingga di hari ini adalah hasil arahan para pengemudiku. Kusebut para karena jumlah mereka terlalu banyak untuk kuhitung dan kutahu. Aku sendiri hanya salah satunya. Jadi keliru kalau nasibku di hari ini cuma hasil dari usahaku. Benar ada unsur aku di dalam diriku. Tapi tak terkira jumlah pihak lain dalam diriku yang sangat menentukan perjalananku.

Untuk menjadi penulis saja betapa banyak pihak yang mendukungku. Sepintar apapun aku menulis percuma saja kalau tak ada yang membaca. Ada pembaca pun percuma kalau tak ada yang memuat. Ada yang memuat pun percuma kalau tak diedarkan dan seterusnya.

Jadi di setiap nasib seseorang terdapat mata rantai peran pihak lain yang berlangsung secara rumit, intensif, dan simultan. Kedudukan diri sendiri di dalam kerumitan itu sungguh hanya serupa sekrup kecil di belantara mesin mega-raksasa. Persoalannya ialah, kenapa mesin raksasa yang sebagian besar isinya adalah pihak lain itu seolah-olah hanya bekerja untuk kita? Padahal dalam hidup sehari-hari egoisme pihak lain itu amat jelas. Jangankan harus melempangkan karier pihak lain, untuk memberi jalan pihak lain di sebuah kemacetan saja berat kita lakukan.

Inilah yang aneh: egoisme yang mudah berlangsung secara individual ini tak mudah berlangsung secara struktural. Penjelasan gampangnya begini, orang paling egois sekalipun harus mau antre karena paksaan sistem dan struktur.

Secara individual ia bisa saja marah pada kenyataan ini. Apalagi, makin tinggi kedudukan seseorang makin ia rawan tekanan dan makin tinggi pula standarnya atas kehormatan. Jangankan diminta antre, salah menulis gelar namanya saja sudah akan menyulut persoalan.

Tapi walaupun orang ini marah sampai mati tak ada pengaruhnya bagi awan-awan yang berarak. Matahari akan tetap terbit dari timur tak peduli ditolak maupun disetujui. Karenanya, kedudukan individual itu tak banyak artinya dibanding kedudukan struktural. Begitu lemah individu itu sehingga kemampuannya nyaris hanya satu: menyesuaikan.

Karenanya inilah yang selalu dibuktikan oleh orang-orang sukses itu: menyesuaikan. Jika ia pengusaha ia menyesuikan kebutuhan pasar. Jika ia ulama ia menyesuaikan kebutuhan umat. Jika ia nelayan akan menyesuaikan angin. Jika ia pialang saham ia akan menyesuaikan gerak teknikal dan gerak fundamental. Karena cuma itulah navigasi hidup. Planet akan terlempar dari dari kedudukannya sebagai planet kalau ia keluar orbit.

Agar tetap di dalam orbit itulah.kuncinya. Maka barang siapa berada di dalam orbit, bahkan tanpa berusaha ia akan mendapatkan. Tanpa berjalan ia akan sampai ke tujuan. Tanpa menanam ia akan memanen. Semudah itu? Memang mudah. Bagi pihak yang telah mengorbit semuanya memang menjadi mudah. Untuk berada di dalam orbit itulah yang susah. Bagaimana agar ia mudah? Tanyakan pada Andrie Wongso. (Prie GS, budayawan, penikmat hidup)





Parodi PrieGS | 18 Februari 2013 18:41 wib
Karma Kata
Sebutan Monas di hari-hari ini hampir selalu dikaitkan dengan Anas. Bukan karena secara kebetulan kedua kata itu mengandung kesamaan rima. Melainkan karena konteks pengucapan yang pernah ada sebelumnya. "Gantung saya di Monas," kira-kira begitulah kata-kata yang diucapkan Anas saat itu demi meyakinkan publik bahwa dugaan korupsi itu menurutnya tak benar. Benar atau atau tak benar dugaan itu, adalah soal yang tak menarik untuk dikaji di rubrik ini. Jauh lebih menarik adalah mengamati perjalanan kata itu sendiri. Kata itu, begitu terlepas ternyata memiliki rutenya sendiri. Mulut ternyata hanya alat produksi dan bukan alat pengendali. Karenanya begitu kata diucapkan, si pengucap langsung kehilangan kekuasaan atas ...
...selengkapnya

Parodi PrieGS | 5 Februari 2013 10:18 wib
Rezeki Sublimatif
Satu tapi mengubah semua, itulah hasil dari hukum sublimasi jika sudah bekerja. Yang ...
...selengkapnya

Parodi PrieGS | 21 Januari 2013 12:41 wib
Rezeki Definitif
Rezeki yang terbayangkan itu tak sebesar rezeki yang tak terbayangkan. Mudah membay...
...selengkapnya


Serambi PrieGS | 5 Maret 2013 18:02 wib
Pembengkok Jalan
Anda pasti sering berbelok dari tujuan semula oleh sebuah alasan, dan karena terpaksa sering berubah tujuan. Tapi tujuan yang terpaksa itulah yang akhirnya menjadi sesungguhnya tujuan. Tujuan hidup versi keinginan itu ternyata berbeda dari tujuan versi kebutuhan. Ada tujuan versi kebutuhan yang tidak Anda tuju cuma karena tidak Anda sukai, untuk itulah kenapa jalan Anda sering secara paksa dibengkokkan. Saya pernah bertujuan menjadi penyanyi. Punya album rekaman, masuk TV, terkenal dan kaya raya. Tentu saya tak menolak jadi tekenal dan kay...
...selengkapnya

Serambi PrieGS | 3 Maret 2013 19:10 wib
Akurasi Kasuk Kusuk
Jurnaslisme tercepat bukanlah internet, bukan Facebook bukan Twitter. Jurnalisme tercepat adalah kasak- kusuk. Ini adalah jurnalisme tertua di dunia yang hingga kini belum gugur supermasinya. Di internet, seseorang masih bisa...
...selengkapnya



Refleksi | 13 September 2012 08:51 wib
Gerakan Ketulusan Nasional
Semakin sering saya melihat hasil sebuah ketulusan, semakin ingin saya mengabarkan. Telah banyak saya lihat, tentang bagaimana ketulusan mengubah keadaan. Ia adalah kotbah paling meyakinkan. Saya selalu takjub, kepada tetangga saya, yang saat lingkungannya repoit, langsung bekerja begitu saja. Ia tidak memandang tinggi diri sendiri. Dan ia tidak memandang rendah kepad a pihak yang cuma diam saja. Itulah indikasi...

Refleksi | 11 September 2012 18:59 wib
Apa yang Saya Ingini…
Apa yang saya ingini rasa selalu saya dapati. Tepatnya, Tuhan selalu tidak tega untuk tidak memberi. Rasanya bukan ...

Refleksi | 8 September 2012 20:58 wib
Marah, Kurus, Sakit, Mati
Kolom Parodi Prie GS Suara Merdeka Minggu Sebuah riset mengatakan negara terkaya adalah Amerika (riset yang lain Q...

Refleksi | 8 September 2012 20:57 wib
Ular - Ular Pengantin
Cerpen lamaku ini pernah hendak dimuat Kompas tapi urung karena keburu dimuat di buku Kumpulan Kado Pengantin putri...

Refleksi | 7 September 2012 20:54 wib
Daftar Tapi
Saya sering melakukan identifikasi kepada pihak yang sering menggunakan kata tapi, terutama ketika konteksnya sedan...

Refleksi | 1 Maret 2012 19:51 wib
Anak Saya Kalah Lomba
Anak Saya Kalah Lomba Soal yang hampir tak bisa Anda hindarkan ketika menjadi orang tua adalah mendapati anak yang ...




8 Maret 2013 11:42 wib
Rekomendasi

01. Narator 1 : Saudara, rekomendasi adalah kata yang mahal di hari-hari ini.02. Narator 2 : Di Negeri Sketsa kata ini.malah telah menjadi komoditi.03. Narator 1: Ia bisa dijual untuk karier, bisnis, bahkan politik.04. Narator 2:  Karena para pembeli itu percaya, rekomendasi bisa mengubahpeta.05. Narator 1: Peta nasib tentu saja.06. SOUND   : KETOK PINTU KERAS07. Genduk   : Sssssst jangan keras kerassss.08. SOUND   : KETOK PINTU PELAAAAN.09. Genduk   : Yahh..hanya dalam politik ketokan saja pakai.nad...


Kompak Kontekstual
01. Narator 1: Saudara, tak mudah di hari-hari ini, di Negeri Sketsa untuk ...

Kompromi Politik
01. Narator 1: Saudara, kompromi adalah kata yang sangat populer di Negeri ...

Studi Banding
01. Narator 1 : Saudara, studi banding adalah kegiatan penting di negeri Sk...