Yang Mengotori, Yang Membersihkan
Saya seperti memiliki jadwal tetap di setiap shalat baik Iedul Fitri maupun Iedul Adha di masjid dekat rumah. Apa itu? Yakni mengumpulkan koran-koran bekas yang ditinggal begitu saja oleh jamaah. Ada beberapa alasan kenapa saya melakukannya. Pertama, karena cuma itulah bantuan yang saya bisa berikan untuk panitia masjid. Mereka adalah pihak yang menimbulkan rasa hormat saya atas kerja sosialnya dan semua jenis ketulusan sosial menerbitkan rasa hormat saya. Di dunia boleh terus ada orang-orang rusak, tetapi sepanjang masih ada orang tulus, setidaknya keseimbangan masih terjaga. Alasan kedua adalah karena saya adalah wartawan. Saya mengerti betul bagaimana proses menulis dan proses koran itu dicetak dan diedarkan. Di dalam satu tarikan mata rantai itu, terdapat bermacam-macam dinamika, pahit getir, susah senang, dengan saya menjadi bagian di dalamnya. Saya ingat betapa luar biasa kedudukan mesin ketik saat itu ketika saya mulai belajar mengarang. Ia adalah barang impian. Bahkan baru menyebut namanya saja jantung saya berdegup lebih kencang. Mendengar deru mesin ketik adalah konser yang luar biasa bagi kuping saya. Untuk bisa menulis dengan mesin ketik, saya malah harus pura-pura naksir seseorang yang bisa mengantarkan saya meminjam mesin ketik di balai kelurahan. Lewat mesin ketik balai kelurahan itu pula saya mengawali karier saya sebagai jurnalis. Malam, saat itu, kampung kami digegerkan oleh seseorang dari kampung sebelah yang dipikul tetangganya menuju puskemas. Rombongan pemikul ini transit kelelahan di kampung kami sambil meletakkan ‘’barang’’ usungannya berupa korban yang nyaris kehabisan darah karena diseruduk babi hutan. Ini sudah tentu drama kemanusiaan yang menyentuh. Lewat mesin ketik balai desa itulah saya mengetik sebisanya untuk saya kirim ke Suara Merdeka dan saat dimuat, nama saya langsung terkenal di seantero desa. Jadi kepada koran, saya memiliki ikatan emosional yang dalam. Walau itu baru alasan kedua. Alasan ketiga, adakah alasan yang menurut saya lebih penting dan lebih fundamental, yakni budaya mengotori dan membersihkan. Ini kebudayan yang mestinya bersambung tetapi sering terputus begitu saja oleh sebuah kebiasaan. Yang dimaksud bersambung itu ialah: sudah barang tentu siapa yang mengotori, ia pula yang otomatis harus membersihkan. Sesedehana itu sebetulnya. Tetapi soal-soal yang sudah jelas-jelas sederhana itu tak henti-hentinya menjadi persoalan rumit di negara ini. Selalu ada saja tulisan di WC-WC umum: habis kencing harap diguyur. Sudah jelas, mengguyur kencing sendiri itu kewajiban. Kenapa bahkan yang wajib saja masih harus dianjur-anjurkan? Karena pada prakteknya, pada kewajiban sendiri saja banyak dari kita gagal menunaikan. Maka jangankan menjalankan yang sunnah, jika menjalankan yang wajib saja gagal, maka akan banyak sekali kewajiban di dunia ini terbengkalai dan ini akan membuat banyak proses hidup tidak berjalan. Atau, jika yang sunah jauh lebih banyak dijalankkan katimbang yang wajib, akan banyak sekali pekerjaan yang tampaknya dikerjakan tetapi sedikit saja memberi penghasilan. Di mana-mana terlihat kesibukan tetapi tidak jelas apa yang sedang dikerjakan. Ada begitu banyak kegiatan mengatasnamakan pembangunan tetapi hasil pembangunan tidak pernah benar-benar bisa dirasakan. Hidup sungguh berisi urutan dan menjadi sederhana jika urutan itu dijalankan: mulai dari siapa saja yang mengotori harus mau membersihkan. (Prie GS) Berita "Refleksi" Lainnya |
![]() ![]()
|
||||||




