Antara Sakit dan Malu
Ada kalanya, malu lebih menakutkan katimbang sakit. Kalau tak percaya tanyalah istriku. Suatu hari di tengah kesibukannya menyirami tanaman depan rumah, ia terpeleset di bebatuan halaman. Sebelah kakinya tertekuk ke belakang dengan seluruh berat tubuh sebagai beban. Sudah kubayangkan jenis kesakitan yang ia derita. Sebagai suami saya cemas atas persoalannya. Kaki yang tertekuk di atas batu itu, dengan seluruh berat tubuh menimpanya itu, adalah risiko yang nyata. Aku telah bersiap memberinya pelayanan optimum: dari mencarikan tukang pijat terbaik kalau perlu dokter terbaik. Tetapi niat ini urung semata-mata karena reaksinya sendiri. Istriku tidak sibuk mengurus sakit yang aku khawatirkan itu. Ia malah sibuk mengurus kemungkinan ini: adakah tetangga yang melihat saat ia terjatuh. " Sepertinya banyak orang di depan. Tetapi begitu aku jatuh, kok tiba-tiba sepi,’’ katanya antara ragu-ragu dan curiga. Rasa inilah yang kemudian malah berkembang dominan di perasaannya. Sakit itu mengganggunya. Tetapi rasa malu ternyata jauh lebih mengganggunya. Berkali-kali ia minta diyakinkan, adakah orang-orang yang kemudian menjadi sepi itu benar-benar karena sepi, atau karena sembunyi. Jika yang sepi itu cuma karena sembunyi, berarti itu hanyalah keramaian yang menyembunyikan diri karena tak enak hati. Artinya, semula banyak orang yang melihat kejatuhan itu. Katimbang terasa sebagai musibah, jatuh itu, bagi istri lebih terasa sebagai aib. Lalu akhirnya, aib itulah musibah terbesar manusia jika ditilik dari logika ini. Seberapa jauh logika ini berlaku? Sangat jauh, karena sebetulnya ia berlaku hampir menyeluruh. Malu adalah pakaian manusia paling primer yang kedudukannya hanya bisa dikalahkan oleh rasa lapar. Jadi hanya orang dengan tingkat kelaparan sedemikian rupa saja yang boleh menanggalkan sejenak rasa malunya Terutama lapar, yang jika tidak diatasi segera, mati adalah taruhannya. Tapi untuk jenis kelaparan yang biasa-biasa saja, tidak begitu saja mudah mengusir malu. Lapar sedikit tak mengapa asal terhindar dari malu, begitulah rata-rata perilaku manusia. Artinya, manusia dengan kadar rata-rata saja bisa memilih lapar katimbang harus menanggung malu. Apalagi manusia dengan kedudukan khusus. Ia jelas lebih berkemampuan menempatkan malu di atas lapar. Malu itu tak bisa ditukar hanya sekadar oleh agar ia tidak lapar. Jadi di dunia peradaban, malu adalah pakaian tertinggi. Karenanya tinggi rendahnya sebuah peradaban sangat diwarani oleh tinggi rendahnya budaya malu di dalamnya. Semakin banyak aib beredar, itulah pertanda makin rendahnya budaya malu di sebuah wilayah. Wilayah itu bisa bernama desa, kelurahan, kecamatan hingga negara. Tetapi apa jadinya jika desa, kelurahan, kecamatan dan negara itu akhirnya sama saja. Di desa, banyak orang berhutang dan lupa bayar kepada tetangganya. Di kelurahan, ada perangkat desa bersengkokol menjual tanah yang bukan miliknya. Di dalam negara tak lagi populer sebutan abdi negara karena ada yang ikrarnya mengabdi malah cuma jadi tersangka. Di televisi, banyak anak-anak yang sejak dalam kandungan malah sudah kebingungan mencari bapaknya. Tidak mudah karena harus lewat tes DNA segala. Aib di hari-hari ini, makin melimpah jumlahnya. Alih-alih disembunyikan, ia malah sudah mulai jadi bahan pertunjukkan. Dan ini adalah ukuran tinggi rendahnya sebuah peradaban. (Prie GS)
Berita "Refleksi" Lainnya |
![]() ![]()
|
||||||




