Tegasnya begini: mudah bagi Anda tidak menyukai kucing dengan cara sama
sekali menolak hidup serumah dengannya. Sulit Anda membenci kucing, jika ia
kesayangan mertua. Dan sangat sulit Anda membenci kucing jika ia dicintai oleh
anak sendiri.
Sementara keadaan telah berubah, perasaan saya pada kucing belum berubah.
Dari biasa menjadi jengkel, dari jengkel menjadi benci dengan alasan yang telah
saya ceritakan sebelumnya. Tepat ketika saya telah membencinya, hewan ini malah
diusung lagi ke rumah oleh anak saya sendiri. Babak paling menegangkan telah
dimulai.
Di suatu sore, putri saya itu, menagih janjinya. Ia lama meminta, dan lama
saya mengulurnya. Suatu hari nanti, ia boleh memelihara kucing dan saya
pura-pura mengiyakan, jika sudah sanggup mengurusnya. Tidak cuma sekedar
mengurus, tetapi juga harus menepati seluruh prosedurnya. Saya telah berlaku bak
lembaga donor pada negera miskin. Mengutangi dengan kedok meminjami. Merongrong
dengan kedok membantu. Melarang dengan kedok membolehkan. Caranya: dengan
menetapkan syarat yang berat. Inilah MoU-nya:
''Kamu harus memandiknnya sendiri. Harus membawa ke dokter hewan kalau
sakit. Harus memberi makan sendiri. Tidak boleh dilepas sembarangan. Harus
diberi kandang. Harus ada tempat makan dan minum khusus. Harus bisa kencing dan
berak di kamar mandi. Tidak boleh tidur di sofa apalagi masuk kamar keluarga.
Seluruh kekotoran yang diakibatkan oleh si kucing harus kamu sebagai
penanggungjawabnya!''
Begitulah bunyi persyaratan yang saya jelaskan dan harus ditepati tanpa
menunggu persetujuan. Syarat itupun saya sodorkan lengkap dengan mata melotot
dan rahang mengeras. Tapi anak saya yang sudah sore itu lengket dengan kucing
kecilnya dengan teguh mengambil seluruh syarat yang saya ajukan. Cuma
mengangguk, nyaris tanpa suara, tetapi langsung terbayang keteguhan hatinya. Ada
kucing lagi di rumah saya, dan kali ini pembawa itu adalah lawan yang bukan main
beratnya: anak sendiri. Lagipula? astaga! Kucing yang datang itu juga bukan
kucing kelas tinggi. Ia kucing buduk, anak kucing kampung yang sakit dan
demikian buruk keadaannya.
Kurus kering dan sangat teraniaya. Mukanya bopeng bekas luka. Bulunya
meranggas dan di punggungnya malah ada bercak cat bekas olesan kuas. Kucing ini,
oleh sebuah kekejaman entah oleh siapa, benar-benar dijadiklan kanvas hidup. Tak
perlu anak saya, bahkan saya sendiri yang bukan pecinta kucing, ngeri
membayangkan ada jenis ketegaan ini. Dari semua sudut, hewan ini menjijikan bagi
yang pobhia, mengenaskan bagi yang iba, merepotkan bagi yang sibuk dan menjadi
beban bagi yang terpaksa. Tetapi kucing yang lengkap nasip sialnya inilah yang
dibawa pulang anak saya. Ini sungguh sebuah keberanian yang saya sendiri tak
memilikinya.
Mudah untuk merawat anggota yang bersih, manja dan mahal. Gampang untuk
bersekutu dengan kucing gedongan yang keberutnungannya kadang melebihi manusia.
Tetapi pasti berat sekali untuk bisa menyukai kucing bopeng tanpa kasta ini. Dan
eloknya, seluruh kerepotan urusan yang saya bayangkan dengan ketakutan itu,
dilakukan dengan suka cita oleh anak saya.
Jika pagi menjelang, kucing ini yang pertama kali ia sapa. Dalam tempo tiga
hari, ia sudah terlatih masuk ke kamar mandi. Ini hasil yang tak pernah saya
duga. Dari hari ke hari cat di punggungnya itu mengelupas sendiri. Bopeng di
mukanya berkurang drastis dan ketika kolom ini ditulis mukanya sudah bersih sama
sekali. Di balik tampang malangnya dulu, kucing ini ternyata menyimpan mata biru
yang memukau. Ia kini menjadi selebriti di rumah kami.
Setiap melihat kucing yang kini sudah sah menjadi warga baru yang terhormat
ini, saya terkesima pada keajaiban keberanian; keberanian anak saya dalam
memberi tempat ketika pihak lain sangat membutuhkan.
(Prie GS/cn09)