Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Saat beraksi di Balikpapan
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 5

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 62
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106306
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Serambi
Anak Kucing (3)
Oleh priegs
Jumat, 27-Maret-2009, 09:55:15 700 klik Send this story to a friend Printable Version
Inilah kolom ketiga dari tiga seri yang direncanakan, semuanya tentang kucing. Pertama tentang kucing pada umumnya yang kepadanya mudah saya sikapi, kedua tentang kucing yang dibawa Ibu Mertua yang mulai sulit saya sikapi, dan terakhir adalah kucing yang paling sulit saya sikapi karena ia kesayangan anak perempuan saya!
Tegasnya begini: mudah bagi Anda tidak menyukai kucing dengan cara sama sekali menolak hidup serumah dengannya. Sulit Anda membenci kucing, jika ia kesayangan mertua. Dan sangat sulit Anda membenci kucing jika ia dicintai oleh anak sendiri.

Sementara keadaan telah berubah, perasaan saya pada kucing belum berubah. Dari biasa menjadi jengkel, dari jengkel menjadi benci dengan alasan yang telah saya ceritakan sebelumnya. Tepat ketika saya telah membencinya, hewan ini malah diusung lagi ke rumah oleh anak saya sendiri. Babak paling menegangkan telah dimulai.

Di suatu sore, putri saya itu, menagih janjinya. Ia lama meminta, dan lama saya mengulurnya. Suatu hari nanti, ia boleh memelihara kucing dan saya pura-pura mengiyakan, jika sudah sanggup mengurusnya. Tidak cuma sekedar mengurus, tetapi juga harus menepati seluruh prosedurnya. Saya telah berlaku bak lembaga donor pada negera miskin. Mengutangi dengan kedok meminjami. Merongrong dengan kedok membantu. Melarang dengan kedok membolehkan. Caranya: dengan menetapkan syarat yang berat. Inilah MoU-nya:

''Kamu harus memandiknnya sendiri. Harus membawa ke dokter hewan kalau sakit. Harus memberi makan sendiri. Tidak boleh dilepas sembarangan. Harus diberi kandang. Harus ada tempat makan dan minum khusus. Harus bisa kencing dan berak di kamar mandi. Tidak boleh tidur di sofa apalagi masuk kamar keluarga. Seluruh kekotoran yang diakibatkan oleh si kucing harus kamu sebagai penanggungjawabnya!''

Begitulah bunyi persyaratan yang saya jelaskan dan harus ditepati tanpa menunggu persetujuan. Syarat itupun saya sodorkan lengkap dengan mata melotot dan rahang mengeras. Tapi anak saya yang sudah sore itu lengket dengan kucing kecilnya dengan teguh mengambil seluruh syarat yang saya ajukan. Cuma mengangguk, nyaris tanpa suara, tetapi langsung terbayang keteguhan hatinya. Ada kucing lagi di rumah saya, dan kali ini pembawa itu adalah lawan yang bukan main beratnya: anak sendiri. Lagipula? astaga! Kucing yang datang itu juga bukan kucing kelas tinggi. Ia kucing buduk, anak kucing kampung yang sakit dan demikian buruk keadaannya.

Kurus kering dan sangat teraniaya. Mukanya bopeng bekas luka. Bulunya meranggas dan di punggungnya malah ada bercak cat bekas olesan kuas. Kucing ini, oleh sebuah kekejaman entah oleh siapa, benar-benar dijadiklan kanvas hidup. Tak perlu anak saya, bahkan saya sendiri yang bukan pecinta kucing, ngeri membayangkan ada jenis ketegaan ini. Dari semua sudut, hewan ini menjijikan bagi yang pobhia, mengenaskan bagi yang iba, merepotkan bagi yang sibuk dan menjadi beban bagi yang terpaksa. Tetapi kucing yang lengkap nasip sialnya inilah yang dibawa pulang anak saya. Ini sungguh sebuah keberanian yang saya sendiri tak memilikinya.

Mudah untuk merawat anggota yang bersih, manja dan mahal. Gampang untuk bersekutu dengan kucing gedongan yang keberutnungannya kadang melebihi manusia. Tetapi pasti berat sekali untuk bisa menyukai kucing bopeng tanpa kasta ini. Dan eloknya, seluruh kerepotan urusan yang saya bayangkan dengan ketakutan itu, dilakukan dengan suka cita oleh anak saya.

Jika pagi menjelang, kucing ini yang pertama kali ia sapa. Dalam tempo tiga hari, ia sudah terlatih masuk ke kamar mandi. Ini hasil yang tak pernah saya duga. Dari hari ke hari cat di punggungnya itu mengelupas sendiri. Bopeng di mukanya berkurang drastis dan ketika kolom ini ditulis mukanya sudah bersih sama sekali. Di balik tampang malangnya dulu, kucing ini ternyata menyimpan mata biru yang memukau. Ia kini menjadi selebriti di rumah kami.

Setiap melihat kucing yang kini sudah sah menjadi warga baru yang terhormat ini, saya terkesima pada keajaiban keberanian; keberanian anak saya dalam memberi tempat ketika pihak lain sangat membutuhkan.

(Prie GS/cn09)
 
Berita Serambi Lainnya
.Menggembosi Amarah
.Menguras Bak Mandi
.Istri Sakit
.Lulus Seratus Persen
.Kucing Kawin
.Bekerja itu Sakit
.Jam Terbang
.Memotong Rumput
.Perjuangan Untuk Bergembira
.Anak Saya Kalah Lomba

Komentar ...
Ada 3 komentar tentang artikel ini :

dheni @124.195.21.98 berkomentar,
Sabtu, 22-Mei-2010, 11:01:58
nopo larene njenengan niku sing sok njenengan jak jawah-jawahan teng teras, mas prie? wslm

har @203.130.209.9 berkomentar,
Kamis, 01-April-2010, 13:30:00
kok kayak saya sampean. anak saya bawa kucing yg terlantar halaman disekolah. saya marahi boleh dipelihara tapi taruh diluar, ee diterkam biawak naka saya teriak teriak digemukin lalu dilepeh. Kepalanya berdarah, matanya nonjol keluar. Akhirnya saya bolehkan pelihara dirumah. sekarang sudah beranak lima. eee sekarang malah saya yang setiap hari ngelus ngelus anak anak kucing itu

yona yohara @118.97.64.3 berkomentar,
Jumat, 12-Februari-2010, 10:01:58
saya salut dengan keberanian dan kesabaran anak ibu, hal ini juga pernah saya alami.. alhasil suami saya sangat mencintai kucing, bahkan jika bertemu kucing-kucing yang teraniaya dijalan dia langsung membawa pulang kemudian merawatnya,sekarang saya sdh memiliki 30 ekor kucing jalanan yang saya rawat dirumah

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS