| Produk Prie GS |

 Ingin memiliki buku diatas? Hubungi: team@priegs.com
|
| Gallery |
 PrieGS Acara HUT SuaraMerdeka ke 58, bersama Ir. Budi Santoso |
| Who's Online ? |
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 3
Tidak ada Anggota Online.
Online Hari ini : 39
Online Bulan ini : 1164
Total Hits : 107063 |
|
|
|
|
| Berita /
Serambi |
|
| Abang Becak Bertato | | Oleh priegs |
| Jumat, 27-Maret-2009, 09:56:50 |
750 klik |
 |
 |
|
|
| ORANG dengan tato di sekujur tubuh ini lebih cocok menjadi preman pasar atau
pemalak jalanan katimbang menjadi pengayuh becak. Dari becaknya yang tengah
nongkrong, ia bangkit menyongsong pertanyaan seorang pengendara yang bingung
memilih rute. Dengan kesopanan seadanya, dengan kata-kata sekenanya, manusia
bertato ini menjelaskan rute itu sebaik yang dia bisa. Tapi penjelasan yang
serba cekak dan terbata-bata itu, tak menutupi kesungguhan hatinya demi membantu
kebingungan sesama. |
|
|
Selalu ada keinginan berbuat baik bahkan dari orang
paling tak terduga sekalipun. Itulah kenapa para sutradara film, novelis dan
dramawan sering menjadikan hal ini sebagai bumbu bagi cerita-cerita mereka,
tentang seorang bandit besar yang selalu terharu melihat kemiskinan tetangganya.
Tentang pembunuh keji yang bisa menangis tersedu-sedu cuma oleh adegan cengeng
di sebuah opera.
Di dalam kehidupan nyata, pemandangan in malah makin
nyata belaka. Seorang yang telah dikenal sebagai koruptor adalah orang yang
sekaligus dikenal paling dermawan di wilayahnya. Jalan-jalan kampung dia aspal,
tak terhitung tempat ibadah yang menerima sumbangannya. Oya, tak lupa, ia juga
membangun rumah ibadah pribadi di kompleknya sendiri.
Tapi mari kembali
bicara soal tato di tubuh pengayuh becak satu ini. Apakah orang ini mentato diri
karena dorongan premanisme? Tidak. Banyak fakta membantahnya. Betapapun penuh
tato itu, ia toh tetap memilih sebagai tukang becak saja. Betapapun garang
penampilannya, kebaikan hatinya jelas terbaca. Lalu apa dong?
Oo, pasti
orang ini tak lebih dari kita, manusia Indonesia pada umumnya yang membutuhkan
hiburan karena dikepung banyak tekanan. Karena tertekan oleh kemiskinan,
seseorang butuh menjadi seolah-olah kuat, keren dan jagoan. Dan tato itu tak
lebih dari aksesori penentram saja. Seperti bedak bagi wanita yang mendadak
merasa cantik setelah memakainya. Seperti gincu bagi bibir yang tiba-tiba merasa
sensual setelah kena polesannya.
Bagi pihak yang miskin dan lemah menjadi
seolah-olah kaya dan berdaya adalah kebutuhan utama. Karena orang yang kuat,
jagoan sesungguhnya dan para preman sejati, jauh lebih banyak memilih dasi
katimbang tato.
Bagi bangsa yang selalu kesulitan menggali nilainya
sendiri, maka mengimpor nilai tetangga adalah pilihan yang tak terhindarkan
lagi. Maka diundanglah Shah Rukh Khan kemari dengan tiket Rp 3 Juta untuk
menontonnya. Kita histeris cuma karena orang ini hendak membuka jaketnya. Kita
larut oleh lagu dan tarian yang pernah lama dianggap kacangan.
Tapi
apapun kata orang, India tak peduli. Ia terus saja menyanyi dan menari.
Bollywood terus saja gila-gilaan berproduksi, bahkan si Shah Rukh Khan ini,
dengan ketentraman yang mengagumkan menjawab pertanyaan tentang Oscar, tentang
Hollywood. "Saya tak cukup baik untuk itu, " katanya. Ya, Oscar, siapa peduli.
Toh di Indonesia, negeri yang bangkrut ini, harga tiket telah mencapai Rp 3 juta
per kepala hanya untuk menonton play backnya!
India cuma menari dan
menyanyi, Hongkong cuma memukul dan menendang, tapi industri film mereka kaya
luar biasa. Indonesia punya hampir semuanya, ribuan tradisi....tapi miskin luar
biasa. Bangsa yang kaya ini bahkan selalu kebingungan harus menjual
apa.
(PrieGS/) |
| |
| Ada 2 komentar tentang artikel ini : | ulin @118.96.136.166 berkomentar, Rabu, 03-Februari-2010, 23:02:23 http://tulisanulin.blogspot.com | | ulin @118.96.136.166 berkomentar, Rabu, 03-Februari-2010, 23:01:34 saya sudah menulis diblog, tapi masih aja jelek, gimana biar bisa nulis bagus? oya ini blog saya, kalau mas prie ada waktu(saya yakin mas prie gak ada) tolong blog saya dikunjungi sambil ngasih saran. (sebuah keinginan yang hampir mustahil) | |
Tulis Komentar Anda di sini...
|