| Produk Prie GS |

 Ingin memiliki buku diatas? Hubungi: team@priegs.com
|
| Gallery |
 PrieGS Iklan Event di Balikpapan |
| Who's Online ? |
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 3
Tidak ada Anggota Online.
Online Hari ini : 63
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106278 |
|
|
|
|
| Berita /
Serambi |
|
| Apa Sebetulnya Usaha Kita? | | Oleh priegs |
| Jumat, 27-Maret-2009, 10:02:27 |
1019 klik |
 |
 |
|
|
| APA sebetulnya yang bisa kita usahakan? Jangan-jangan tidak ada. Karena di
setiap kejadian, kita seperti cuma bisa melakukan apa yang diperintahkan.
Perintah itu bisa berupa keinginan, keterpaksaan, keragu-raguan, bahkan
kecelakaan-kecelakaan hidup. |
|
|
Karena keteledoran, saya lupa mengingat
jatuh tempo kartu prabayar handphone saya. Ketika teringat, segalanya telah
hampir terlambat. Tinggal dua jam lagi hari berubah, dan hanguslah nomor yang
telah demikian lama saya pakai, sudah dihafali teman dan kolega, sudah terbiasa
menjadi sarana untuk saling berkabar anak-istri dan saudara.
Maka
terancam kehilangan nomor ini, seperti terancam kehilangan anggota keluarga.
Saya baru tahu, bahwa nomor yang demikian dekat dengan hidup saya itu tidak saya
rawat sebagai mana mestinya. Kelupaan itu adalah semacam karma yang harus saya
tanggung. Karma itu berupa rasa bersalah, dan rasa panik luar biasa. Kepanikan
yang berasal tidak cuma dari sekadar kehilangan nomor telepon, tapi lebih karena
menyadari bahwa saya telah bertindak bodoh. Kebodohan inilah yang membuat saya
sedih dan marah pada diri sendiri.
Maka dua jam berikutnya benar-benar
menjadi ketegangan yang sesungguhnya. Malam sudah larut, sudah tidak lazim lagi
penjual voucher membuka usaha. Tapi semua upaya harus dicoba. Toko pertama yang
saya datangi mengaku masih menyimpan banyak stok. "Tapi baru saja tutup, baruuuu
saja. Tiga menit yang lalu," kata penjaga malamnya.
Ia menganjurkan untuk
menuju wartel di seberang yang jauh. "Buka 24 jam nonstop," kata penjaga ini.
Lega rasanya. Dengan terburu, perjalanan pun berlanjut ke wartel penolong itu.
Lebih lega ketika ia adalah wartel yang ramah, yang dijaga dengan sopan dan
profesional. "Tapi kebetulan sedang kosong. Baru ada besok pagi. Maaf," kata
sang penjaga. Pikiran pun buntu, nyaris putus asa.
Jam makin bergerak
cepat menuju larut, menjelang pergantian hari. Detik-detik menuju penghangusan
nomor telah menanti. "Ada sebuah pom bensin yang bisa membantu Anda," teriak si
penjaga tiba-tiba sambil menyebut sebuah lokasi. "Terimakasih Tuhan!" batin
saya.
Perburuan pun diteruskan. Berpacu dengan waktu. Pom bensin
penyelamat itu pun telah nampak di depan mata. Pertolongan seperti menjelang
tiba. "Pom bensin ini memang masih buka. Tapi kantornya tutup. Vocher itu
dilayani lewat kantor," kata sang penjaga. "Tapi jangan khawatir, masih ada toko
yang buka sampai pagi. Biasa jual vocher," tambahnya.
Keringat dingin
mulai menetes. Tapi ooo, kesempatan masih ada. Perjuangan harus diteruskan,
putus asa harus diharamkan. Dan perjalanan lanjutan ini pun sampai juga. Sebuah
toko yang terang benderang, persis sebagai lambang pertolongan. Lagi-lagi, ramah
penjaganya. "O, biasanya ada, cuma malam ini kosong!" katanya dengan senyum
lebar. Gelap pandangan mata ini. Nomor kesayangan yang telah menemani saya
demikian lama ini memang harus mengakhiri sejarahnya.
Waktu sudah tidak
lagi cukup untuk menuju ke sesuatu. Lagipula sudah tidak ada lagi keinginan
untuk menuju ke sesuatu. Ajal sudah akan sampai, dan takdir sudah menampakkan
dirinya. Sampai akhirnya HP yang malang ini berdering, dan terdengarlah dari
seberang suara seorang kawan yang tak pernah saya duga. Maka sebelum ia banyak
bicara, situasi daruat ini harus segera dituntaskan. "Saya butuh vocher dalam
hitungan menit. Tolong!"
Dengan kegentingan serupa dia mematikan
teleponnya utnuk bertelpon kembali beberpa menit kemudian sambil mendiktekan
nomor voucher yang entah dia dapat dari mana. Segalanya berlangsung amat cepat,
dan nomor voucher itupun suskes masuk ke HP saya sebagai tambahan
pulsa.
Di jalanan yang gelap, saya berhenti, memejamkan mata. Jadi apa
sebetulnya yang bisa kita perbuat, kalau bahkan soal manusia yang kehabisan
voucher pun langsung diurus oleh Tuhan. Allahu Akbar! (03)
(PrieGS/) |
| |
| Ada 2 komentar tentang artikel ini : | Eva @64.255.164.59 berkomentar, Senin, 03-Mei-2010, 10:36:31 Benar mas, sy juga sering merasa begitu,bahwa kejadian hidup kita ini sudah ada skenarionya dari awal. Bahwa kita tinggal menjalaninya dengan 'baik & benar'. | | mahridi @125.167.219.200 berkomentar, Selasa, 08-September-2009, 14:33:37 God everywhere,... | |
Tulis Komentar Anda di sini...
|