| Ada beberapa keuntungan yang telah kupertimbangan bermain dengan anak
sendiri: kalau aku jengkel, ia bisa kumarahi, kalau aku masih ingin, ia bisa aku
bujuk (tepatnya kutekan) agar tidak keburu berhenti, karena dia masih lugu, juga
mudah saja kucurangi. Dan yang terpenting: hanya dengan pura-pura menemani anak
bermain, aku bisa memperagakan tingkah kekanakan tanpa takut ditertawai. Jadi,
baik lewat pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, akulah yang lebih butuh
ditemani katimbang menemani. Dalam bahasa aktivis, anakku adalah korban tekanan
dalam rumah tangga.
Tetapi alam ini adil belaka. Seorang koruptor jika sudah keterlaluan, akan
muntah dengan sendirinya. Yang berskala besar dan tak terjangkau oleh hukum akan
diurus sendiri oleh alam raya. Tapi jika ia sekadar pemula dan pribadi yang
sedang apes, minimal akan tertangkap basah oleh KPK. Pendek kata, ada jenis
hukum yang sudah tidak perlu dikontrol, sudah otomatis akan bekerja.
Begitu juga dengan kelakuanku pada anakku ini. Meminta ditemani dengan
pura-pura menemani adalah sebuah niat yang bukan cuma tidak tulus tapi juga
jahat. Dan korban kejahatan itu anak sendiri pula. Anak itu pun masih demikian
muda umurnya. Sekecil itu sudah menanggung kejahatan yang bertumpuk-tumpuk
begini, pasti derita yang mendatangkan karma bagi penjahatnya. Maka karma itu
pun datang, saat itu juga. Buktinya: setiap anakku itu memukul shuttlecock-nya,
arahnya melenceng senantiasa.
Tangan kecil itu memang masih terbata-bata berkoordinasi dengan akalnya.
Akalnya ke sini, bolanya ke sana. Bola bulu itu sama sekali tak pernah mengarah
ke hadapanku. Maka jadilah aku bukan bermain bulu tangkis tetapi sekadar menjadi
tukang pungut bola. Setiap aku marah, anakku malah tertawa gembira. Setiap ia
kuajari untuk memukul lurus, tapi jatuhnya melenceng juga, ia malah geli sendiri
dengan ulahnya.
Tapi namanya juga anak, adalah tugasku untuk terus membimbingnya tanpa
putus asa. Kuluruskan tangannya, kubenarkan pukulannya. Pada kecepatan lambat ia
mengerti maksudku, tetapi ketika ia kembali pada kecepatannya sendiri, bola itu
melenceng lagi. Hebatnya, ada jenis pemelencengan yang sempurna: bola itu
langsung melambung ke genting masjid kami. Karena mustahil mengurusnya kami
terpaksa berganti bola. Dan bola pengganti itu lagi-lagi bersemayam di atap yang
sama. Maka yang kuperoleh dari tipu daya pada anak ini bukan kegembiraan seperti
yang aku bayangkan, tetapi benar-benar sebuah kemarahan.
Sudah tiga bola bersarang di atap sana. Untuk ukuran permainan yang kurang
bermutu ini, ongkosnya sudah terlalu tinggi. Maka bola ke empat aku membuat
perjanjian; ??Jika pukulanmu masih menceng, kita berhenti!??.
Singkat kata perjanjian ini disepakti. Melihat gaya bapaknya, anakku
mengerti bahwa kemarahanku mulai nyata. Kembali ia melakukan servis. Ini servis
penentuan. Mukanya serius dan tangannya mengejang karena ketegangan. Melihat
usaha ini, sebagai orang tua, hampir saja mataku berkaca-kaca. Anak itu mengerti
bahwa nasibnya sangat ditentukan oleh servis terakhirnya. Bukan cuma dia yang
tegang, aku pun dilanda soal serupa. Tapi jika ketegangan ini ada hasilnya, aku
sudah siap memeluknya sebagai kegembiraan. Betapapun anak itu telah menjad
korban tekanan. Tapi belum rampung rasa haru ini menempati seluruh ruang, bola
telah melambung lagi dan? melenceng lagi. Kami pulang serempak, saling diam,
beku dan membisu.
Di esok hari, ketika anak ini sudah sekolah, rumaku sepi. Cuma shuttlecock
di atas genting itu yang berhasil kupandangi. Wajah anakku berpendaran. Wajah
anak yang kubayangkan sebagai sedang murung dan menuding ke muka bapaknnya
sebagai orang tua yang rakus dalam berebut kegembiraan bahkan dengan anaknya
sendiri.
(Prie GS/cn05) |