Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Foto bareng-bareng di Balikpapan
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 3

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 62
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106297
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Tajuk
Empat Mata Tumbang di Tangan Sumanto
Oleh priegs
Sabtu, 23-Mei-2009, 08:01:38 1848 klik Send this story to a friend Printable Version
Program “Empat Mata” di stasiun televisi Trans7, sejak awal tayangnya memang sudah mengecap banyak kontroversi.  Mulai dari banyaknya adegan cipika cipiki, gadis-gadis yang berdandan dan bergaya terlalu sexy, hingga banyolan-banyolan yang terlalu vulgar yang terlontar dari mulut Tukul Arwana, semuanya melahirkan banyak kecaman dan kritikan.
“Empat Mata” memicu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk bereaksi mengeluakan beberapa surat peringatan. “Empat Mata” mengggoda MUI untuk juga ikut bersuara unjuk gigi. Namun berbagai teguran dan kecaman, ternyata tak menghentikan tayangan “Empat Mata”. Hingga 29 Oktober lalu, program yang melambungkan Tukul Arwana itu akhirnya tumbang juga, di tangan Sumanto. Ya Sumanto, sang (mantan) pemakan daging manusia itu!

Di edisi Sumanto (mantan pemakan mayat) itu, “Empat Mata” memang sudah sungguh keterlaluan. Tidak, di sana memang tak ada episode Sumanto kembali mempraktekkan hobinya yang dulu sempat membuat kontroversi itu kok. Malam itu, Sumanto hanya duduk dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Tukul dengan beberapa jawaban yang simpang siur saja, sering tak nyambung.

Lantas, apa dong yang membuat KPI berang? Hmm…tentu saja yang membuat KPI sungguh berang adalah adegan yang mempertontonkan salah satu tamu acara yang dengan santainya, malam itu, melahap kodok yang nyata-nyata masih hidup! 

“Empat Mata” memang masih bisa “survive” di tayangan tanggal 11 Agustus 2008 dalam episode “Kecil-kecil Pedes Banget”,  yang mengandung unsur adegan dan kata-kata vulgar serta sedikit eksploitasi anak yang dianggap melecehkan lembaga pendidikan dan citra pendidik. “Empat Mata” sekali lagi juga masih berjaya seusai menayangkan edisi tanggal 14 Agustus 2008 dalam  episode “Mijit yang Penting-Penting” yang dinilai KPI mengandung unsur percakapan yang berbau seksual. Tapi di episode Sumanto itu tadi, “Empat Mata” akhirnya tumbang juga. 

“Mempertunjukkan makan kodok hidup itu sangat menjijikkan. Saya tidak tahu bagaimana perasaan produser dan pembuat acara. Seharusnya redaktur bisa bersikap profesional, mengerti etika jurnalistik, tetapi saya tidak tahu kalau redaktur bisa mengorbankan profesionalisme karena mendapat tekanan dari pemilik modal,” kata Abdullah Alamudin, Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat Dewan Pers.

Beberapa tayangan di televisi kita, memang masih memprihatinkan seperti ini, bila ditilik dari celah keintelekan dan kemampuannya menambah derajat harkat dan martabat para penontonnya. Coba, apa gunanya melihat orang yang bisa menelan kodok hidup kalau tak hanya untuk makin mengasah bakat tak berperikemanusiaan semua orang? Apa juga manfaatnya melihat tayangan sinetron yang melulu mempertontonkan derita dan kepayahan sang lakon yang tak kunjung reda, kalau tak hanya untuk semakin menajamkan indera kita untuk selalu meratap dan meratap, melihat semua hal dari sisi yang negatif? Seperti pada program “Dangdut Mania Dadakan 2″ yang ditayangkan di stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), yang juga telah dinilai KPI terlalu mengeksploitasi kesedihan para peserta sebagai bahan tontonannya itu.

Hampir seluruh stasiun televisi kita memang masih memiliki hobi mengumbar tayangan-tayangan yang kurang bermutu seperti itu. Sekalinya ada tayangan baru dengan konsep yang masih sangat segar, yang mungkin saja mengandung banyak pengetahuan, hal, dan alur yang beda dari yang lain, sangat disayangkan, ternyata bukanlah hasil karya asli para sineas atau programmer acara lokal kita, melainkan hasil pembelian lisensi dari program-program asal channel stasiun televisi asing. Ada “Indonesian Idol” yang membeli lisensi dari program “Pop Idol” asal Inggris, ada pula “Akhirnya Datang Juga” yang ternyata pembelian lisensi dari “Thank God You’re Here”, karya Working Dog Productions, Australia. Oh, lantas ada juga, ini bila di layar lebar, film thriller “Miracle”, yang entahlah, secara tak sengaja ataupun disengaja, alurnya ternyata mirip dengan film thriller “Final Destination”!

Hmmm…ditilik dari sini, agaknya bukan hanya KPI saja yang memiliki PR menumpuk. Namun juga para sineas kita, dan juga para tim kreatif stasiun televisi

 
Berita Tajuk Lainnya
.Belajar dari Kecerdasan Malaysia
.Mencintai Pembajak

Komentar ...
Ada 3 komentar tentang artikel ini :

alamsahjatnika @118.96.228.44 berkomentar,
Selasa, 09-Maret-2010, 04:19:43
rating lagi lagi gak akan dikalahkan kode etik....

cahganteng @202.70.58.30 berkomentar,
Sabtu, 21-Nopember-2009, 13:17:32
tapi bagaimanapun empat mata adalah hiburan rakyat yang gratis..membuat rakyat bisa tertawa di tengah sulitnya ekonomi..

sujadi @202.169.37.99 berkomentar,
Rabu, 09-September-2009, 16:57:27
wah pakdhe Prie,
semakin di atas nich....

saya punya dagangan...marista snack, spesial brownies dari tepung ketan dan ayam gorenmg lombok ijo mak nyus

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS