| “Empat Mata” memicu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk bereaksi
mengeluakan beberapa surat peringatan. “Empat Mata” mengggoda MUI untuk
juga ikut bersuara unjuk gigi. Namun berbagai teguran dan kecaman,
ternyata tak menghentikan tayangan “Empat Mata”. Hingga 29 Oktober
lalu, program yang melambungkan Tukul Arwana itu akhirnya tumbang juga,
di tangan Sumanto. Ya Sumanto, sang (mantan) pemakan daging manusia itu!
Di edisi Sumanto (mantan pemakan mayat) itu, “Empat Mata” memang
sudah sungguh keterlaluan. Tidak, di sana memang tak ada episode
Sumanto kembali mempraktekkan hobinya yang dulu sempat membuat
kontroversi itu kok. Malam itu, Sumanto hanya duduk dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan Tukul dengan beberapa jawaban yang simpang siur
saja, sering tak nyambung.
Lantas, apa dong yang membuat KPI berang? Hmm…tentu saja yang
membuat KPI sungguh berang adalah adegan yang mempertontonkan salah
satu tamu acara yang dengan santainya, malam itu, melahap kodok yang
nyata-nyata masih hidup!
“Empat Mata” memang masih bisa “survive” di tayangan tanggal 11
Agustus 2008 dalam episode “Kecil-kecil Pedes Banget”, yang mengandung
unsur adegan dan kata-kata vulgar serta sedikit eksploitasi anak yang
dianggap melecehkan lembaga pendidikan dan citra pendidik. “Empat Mata”
sekali lagi juga masih berjaya seusai menayangkan edisi tanggal 14
Agustus 2008 dalam episode “Mijit yang Penting-Penting” yang dinilai
KPI mengandung unsur percakapan yang berbau seksual. Tapi di episode
Sumanto itu tadi, “Empat Mata” akhirnya tumbang juga.
“Mempertunjukkan makan kodok hidup itu sangat menjijikkan. Saya
tidak tahu bagaimana perasaan produser dan pembuat acara. Seharusnya
redaktur bisa bersikap profesional, mengerti etika jurnalistik, tetapi
saya tidak tahu kalau redaktur bisa mengorbankan profesionalisme karena
mendapat tekanan dari pemilik modal,” kata Abdullah Alamudin, Ketua
Komisi Pengaduan Masyarakat Dewan Pers.
Beberapa tayangan di televisi kita, memang masih memprihatinkan
seperti ini, bila ditilik dari celah keintelekan dan kemampuannya
menambah derajat harkat dan martabat para penontonnya. Coba, apa
gunanya melihat orang yang bisa menelan kodok hidup kalau tak hanya
untuk makin mengasah bakat tak berperikemanusiaan semua orang? Apa juga
manfaatnya melihat tayangan sinetron yang melulu mempertontonkan derita
dan kepayahan sang lakon yang tak kunjung reda, kalau tak hanya untuk
semakin menajamkan indera kita untuk selalu meratap dan meratap,
melihat semua hal dari sisi yang negatif? Seperti pada program “Dangdut
Mania Dadakan 2″ yang ditayangkan di stasiun Televisi Pendidikan
Indonesia (TPI), yang juga telah dinilai KPI terlalu mengeksploitasi
kesedihan para peserta sebagai bahan tontonannya itu.
Hampir seluruh stasiun televisi kita memang masih memiliki hobi
mengumbar tayangan-tayangan yang kurang bermutu seperti itu. Sekalinya
ada tayangan baru dengan konsep yang masih sangat segar, yang mungkin
saja mengandung banyak pengetahuan, hal, dan alur yang beda dari yang
lain, sangat disayangkan, ternyata bukanlah hasil karya asli para
sineas atau programmer acara lokal kita, melainkan hasil pembelian
lisensi dari program-program asal channel stasiun televisi asing. Ada
“Indonesian Idol” yang membeli lisensi dari program “Pop Idol” asal
Inggris, ada pula “Akhirnya Datang Juga” yang ternyata pembelian
lisensi dari “Thank God You’re Here”, karya Working Dog Productions,
Australia. Oh, lantas ada juga, ini bila di layar lebar, film thriller
“Miracle”, yang entahlah, secara tak sengaja ataupun disengaja, alurnya
ternyata mirip dengan film thriller “Final Destination”!
Hmmm…ditilik dari sini, agaknya bukan hanya KPI saja yang memiliki
PR menumpuk. Namun juga para sineas kita, dan juga para tim kreatif
stasiun televisi |