Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Iklan Event di Balikpapan
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 5

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 62
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106308
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Tajuk
Mencintai Pembajak
Oleh priegs
Sabtu, 23-Mei-2009, 08:07:45 1270 klik Send this story to a friend Printable Version
Begitu patah hati penyanyi ini kepada pembajakan sehinga ia memutuskan tidak membuat album lagi. Ini sungguh patah hati yang terlambat. Karena sejak awal ia harus  paham betapa negerinya ini penuh pembajak. Maka semestinya, sudah sejak awal pula ia tidak perlu memutuskan menjadi penyanyi. Kenapa ada jenis patah hati, ketakutan, kejengkelan dan  kemarahan yang terlambat? Karena kemarahan pun punya syarat. Sebelum syarat itu terpenuhi, perasaan marah itu juga belum menampakkan diri. Di antara syarat itu, salah satunya ialah popularitas.
Popularitas membuat manusia merasa berhak punya harga. Harga inipun dari jenis yang ia tetapkan  sendiri. Karenanya, ketika yang ia dapatkan tidak  sepadan dengan ia bayangkan, ia merasa menjadi korban keadaan. Banyak soal kemudian dia persalahkan,  salah  satunya adalah pembajakan. Padahal sebelum seseorang itu populer, ia mentepakan syarat yang rendah saja kepada dirinya sendiri. Jika ia menyanyi,  lagunya akan ia perdengarkan kepada siapa saja secara cuma-cuma. Rekamannya sekadar ia berikan gratis kepada siapa yang mau menerima. 

Sebelum populer banyak orang rela mengorbankan diri, tetapi  setelahnya, mudah sekali ia merasa menjadi korban nasib.  Padahal pengorbanan itulah yang mendatangkan popularitasnya di hari ini. Orang mendengar lagu-lagunya pasti lebih karena orang itu menyukai, bukan karena kuat membeli. Jika cuma pihak yang bisa membeli saja yang boleh mendengar, maka jumlah pendengar semacam itu pasti sedikit  sekali. Lalu tidak akan ada penyanyi yang layak disebut legenda hidup, fenomena, superstar, mega bintang dan seterusnya, jika cuma bergantung pada pembeli asli. Jumlah orang yang meyukai dan berdaya beli sekaligus mau membeli, sangat terbatas.  Sementara jumlah orang yang menyukai, berdaya beli tetapi enggan membeli, lebih banyak lagi. Dan jumlah yang menyukai, tak berdaya beli tapi sebetulnya mau membli, lebih banyak lagi. Sedang jumlah yang menyukai, tak berdaya beli,  sekaligus enggan membeli, pasti yang terbanyak. Jadi kodrat sebuah barang seni itu khas: jumlah penggemarnya, selalu lebih banyak katimbang jumlah pembeli. Karenanya seniman tak perlu cengeng soal ini. Tak perlu meratap ketika engkau menggemariku, tetapi kenapa engkau tidak membeliku. 

Golongan kedua dan seterusnya itulah yang besar jumlahnya sekaligus besar  jasanya dalam menempatkan seseorang sebagai legenda hidup, fenomena, megastar atau apapun sebutannya. Merekalah yang rela berduyun-duyun mendatangi konser, membentuk fans club, meminta tanda  tangan, berteriak histeris,  nyelonong tanpa karcis dan jika perlu dengan senang hati melakukan tawuran.

Jika syarat menjadi suporter bola selalu  harus berdaya beli, lapangan bola tidak akan segegap gempita ini. Pertandingan bola menjadi penuh drama pasti bukan karena selalu uang sebagai modalanya, melainkan juga cukup dengan nekat saja. Itulah sejarah lahirnya bonek. Inilah orang yang berani naik kereta tanpa karcis, jajan tidak  bayar dan jika kecewa bisa mengamuk sedemikian rupa. Ini sungguh sebuah kontribusi yang luar biasa dalam mengesankan sepak bola sebagai permainan mahal  hingga pemainnya layak dibayar tinggi. Jiak tak percaya lihatlah partai yang kena hukuman itu, yang bertanding tanpa boleh ditoton itu. Gol boleh terjadi setiap kali, tapi tanpa sorak-sorai, tanpak kembang api, betapa ia akan mati.

Jajan  tidak bayar tetaplah kejahatan. Tetapi biarlah itu menjadi urusan polisi. Sepak bola tak harus berhenti cuma karena para bonek terus lahir tidap hari. Pembajakan tetaplah kejahatan tetapi tak berarti penyanyi harus menjadi bisu dan lupa menyanyi. Jika hukuman kepada para pembajak belum menentramkan hati, tenteramkanlah diri sendiri dengan cara seperti ini:

Jumlah terbesar pemuja karya seni itu adalah para pengemar, bukan pembeli. Tetapi karena pemuja itulah karya seni berharga tinggi. Jadi lepas dari kekeliruannya, jasa mereka besar sekali. Lalu bagaimana  mungkin kepada pihak yang berjasa, seseorang malah bisa  patah hati.

 
Berita Tajuk Lainnya
.Belajar dari Kecerdasan Malaysia
.Empat Mata Tumbang di Tangan Sumanto

Komentar ...
Ada 1 komentar tentang artikel ini :

hasan @114.59.107.102 berkomentar,
Sabtu, 29-Agustus-2009, 06:49:18
hak cipta milik Tuhan saja

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS