Popularitas membuat manusia merasa berhak punya harga.
Harga inipun dari jenis yang ia tetapkan sendiri. Karenanya, ketika
yang ia dapatkan tidak sepadan dengan ia bayangkan, ia merasa menjadi
korban keadaan. Banyak soal kemudian dia persalahkan, salah satunya
adalah pembajakan. Padahal sebelum seseorang itu populer, ia mentepakan
syarat yang rendah saja kepada dirinya sendiri. Jika ia menyanyi,
lagunya akan ia perdengarkan kepada siapa saja secara cuma-cuma.
Rekamannya sekadar ia berikan gratis kepada siapa yang mau menerima.
Sebelum populer banyak orang rela mengorbankan diri,
tetapi setelahnya, mudah sekali ia merasa menjadi korban nasib.
Padahal pengorbanan itulah yang mendatangkan popularitasnya di hari
ini. Orang mendengar lagu-lagunya pasti lebih karena orang itu
menyukai, bukan karena kuat membeli. Jika cuma pihak yang bisa membeli
saja yang boleh mendengar, maka jumlah pendengar semacam itu pasti
sedikit sekali. Lalu tidak akan ada penyanyi yang layak disebut
legenda hidup, fenomena, superstar, mega bintang dan seterusnya, jika
cuma bergantung pada pembeli asli. Jumlah orang yang meyukai dan
berdaya beli sekaligus mau membeli, sangat terbatas. Sementara jumlah
orang yang menyukai, berdaya beli tetapi enggan membeli, lebih banyak
lagi. Dan jumlah yang menyukai, tak berdaya beli tapi sebetulnya mau
membli, lebih banyak lagi. Sedang jumlah yang menyukai, tak berdaya
beli, sekaligus enggan membeli, pasti yang terbanyak. Jadi kodrat
sebuah barang seni itu khas: jumlah penggemarnya, selalu lebih banyak
katimbang jumlah pembeli. Karenanya seniman tak perlu cengeng soal ini.
Tak perlu meratap ketika engkau menggemariku, tetapi kenapa engkau
tidak membeliku.
Golongan kedua dan seterusnya itulah yang besar
jumlahnya sekaligus besar jasanya dalam menempatkan seseorang sebagai
legenda hidup, fenomena, megastar atau apapun sebutannya. Merekalah
yang rela berduyun-duyun mendatangi konser, membentuk fans club,
meminta tanda tangan, berteriak histeris, nyelonong tanpa karcis dan
jika perlu dengan senang hati melakukan tawuran.
Jika syarat menjadi suporter bola selalu harus
berdaya beli, lapangan bola tidak akan segegap gempita ini.
Pertandingan bola menjadi penuh drama pasti bukan karena selalu uang
sebagai modalanya, melainkan juga cukup dengan nekat saja. Itulah
sejarah lahirnya bonek. Inilah orang yang berani naik kereta tanpa
karcis, jajan tidak bayar dan jika kecewa bisa mengamuk sedemikian
rupa. Ini sungguh sebuah kontribusi yang luar biasa dalam mengesankan
sepak bola sebagai permainan mahal hingga pemainnya layak dibayar
tinggi. Jiak tak percaya lihatlah partai yang kena hukuman itu, yang
bertanding tanpa boleh ditoton itu. Gol boleh terjadi setiap kali, tapi
tanpa sorak-sorai, tanpak kembang api, betapa ia akan mati.
Jajan tidak bayar tetaplah kejahatan. Tetapi biarlah
itu menjadi urusan polisi. Sepak bola tak harus berhenti cuma karena
para bonek terus lahir tidap hari. Pembajakan tetaplah kejahatan tetapi
tak berarti penyanyi harus menjadi bisu dan lupa menyanyi. Jika hukuman
kepada para pembajak belum menentramkan hati, tenteramkanlah diri
sendiri dengan cara seperti ini:
Jumlah terbesar pemuja karya seni itu adalah para
pengemar, bukan pembeli. Tetapi karena pemuja itulah karya seni
berharga tinggi. Jadi lepas dari kekeliruannya, jasa mereka besar
sekali. Lalu bagaimana mungkin kepada pihak yang berjasa, seseorang
malah bisa patah hati.