Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Foto bareng-bareng di Balikpapan
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 2

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 63
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106280
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Tajuk
Belajar dari Kecerdasan Malaysia
Oleh priegs
Sabtu, 23-Mei-2009, 08:28:38 2089 klik Send this story to a friend Printable Version
Masih mengingat Amy Search yang melambung gara-gara “Isabella”? Atau masih pula mengingat betapa jadi meriahnya dunia musik kita gara-gara masuknya penyanyi Negeri Jiran, Siti Nurhaliza, dengan lagunya “Betapa Kucinta Padamu” dulu itu?
Boleh dibilang itu adalah invasi Malaysia ke tanah kita. Invasi yang tak membahayakan, karena apa sih yang bisa membahayakan dari sebuah karya seni itu?

Dan lagi, invasi itu hanya dilakukan oleh segelintir musikus saja. Puncaknya? Ya hanya Siti Nurhaliza itu saja. Invasi yang terbatas, sehingga industri musik kita pun tak pantas panas.

Namun beda dengan apa yang dialami oleh negara tetangga kita itu. Ternyata tanpa pernah kita sadari bersama-sama, para musikus kita sudah mengancam industri musik mereka. Beberapa waktu lalu, ada selentingan menguar bahwa pemerintah Malaysia akan membatasi masuknya musik-musik Indonesia ke wilayah mereka. Hal ini bisa terjadi berdasar pada kenyataan yang memang mengenaskan, bahwa produksi musik lokal mereka turun dari tahun ke tahun gara-gara invasi musikus kita. Bila di tahun 1996 keuntungan pasar musik lokal bisa mencapai 945 milliar (dalam rupiah), tahun 2008 ini hanya mencapai 180 milliar saja.

Pemusik lokal tak digemari di sana. Publik Malaysia lebih memilih untuk mendengarkan lagu-lagu kita, seperti Radja, Ratu, Dewa, atau Peterpan. Musik asal Indonesia mendominasi radio juga televisi Malaysia. Bahkan prosentase yang ada, musik Indonesia mengambil jatah hingga 75 % di sana.

Pemerintah berencana membatasi dan mencekal, dan persatuan radio swasta mereka pun resah. Bagaimana tak resah? Bila hanya lagu-lagu Indonesia saja yang laku di sana?

Proses pencekalan sebenarnya sudah terjadi sangat lama. Apapun yang asalnya dari Indonesia, dalam hal ini tentu saja menyoal karya seni, akan terkena cekal bila terlalu mendominasi. Pada 5 Desember 2007 pementasan barongan pernah kena cekal, tak diperbolehkan lagi unjuk gigi di event-event resmi. Lantas di jalur musik,  Ratu dan Sheila on 7 pun pernah dilarang masuk lagi kesana. Alasannya? Sheila on 7 dan Ratu dianggap tak santun karena menggunakan kata-kata yang seronok untuk judul hit singlenya.

Cekal demi cekal terus berlanjut. Gejolak pun tentu saja ada. Di berbagai bilik chat, komentar pedas melayang menyayangkan keputusan pemerintah Malaysia.

Terus bagaimana dengan musisi kita? Mereka ternyata tak terlalu terusik. Rossa yang lagu-lagunya laku keras di sana memang menyayangkan. Namun D’Massive, band yang tengah naik daun dan dielu-elukan publik Malaysia menanggapi semuanya dengan santai.

“Kita sih santai saja. Tanggal 17-19 Oktober nanti kita juga mau konser di situ kok,” ujar Rian sang vokalis saat ditemui di Blok M Plaza, Jakarta Selatan, Rabu (10/9) malam.

Begitu pula dengan Ebiet G. Ade.“Saya pikir penyanyi kita tidak dirugikan dengan adanya pembatasan itu, sebab selama ini mereka ke sana juga hanya sebagai sambilan saja, omzetnya tentu saja lebih besar yang di dalam negeri.” begitu jelasnya.

Bila proses pembatasan masuknya musik Indonesia akhirnya memang jadi dilaksanakan, Malaysia memang terkesan tak adil. Toh kita sendiri juga tak pernah membatasi masuknya karya seni mereka ke Tanah Air. Bahkan Siti Nurhaliza pun malah dielu-elukan dengan gegap gempita di sini.

Menyikapinya, bolehlah kita jadi menghujat, namun akan lebih baik lagi bila kita juga jadi bercermin. Belajar dari sikap pemerintah Malaysia itu, yang sebenarnya hanya mencoba untuk melindungi seni dalam negerinya sendiri, hanya terlalu mencintai budaya ciptaan sendiri saja. Bila kita bisa bersikap sama, tapi tentu saja dengan implementasi yang lebih cerdas ketimbang membetot paksa telinga masyarakat seperti yang dilakukan oleh Malaysia itu, mungkin saja kebudayaan-kebudayaan serta pulau-pulau kita tak lagi akan terampas di masa yang akan datang.

 
Berita Tajuk Lainnya
.Mencintai Pembajak
.Empat Mata Tumbang di Tangan Sumanto

Komentar ...
Ada 2 komentar tentang artikel ini :

Haryo @202.70.58.206 berkomentar,
Rabu, 21-Juli-2010, 09:11:59
Ipin-Upin gimana?

Rafif Pamenang Imawan @222.124.24.56 berkomentar,
Jumat, 11-September-2009, 16:13:08
Saya sepakat dengan mas Prie tentang invasi kebudayaan dari malaysia serta solusi untuk memperkuat jati diri bangsa Indonesia dibandingkan dengan menghujat pihak malaysia.

Namun saya juga melihat bahwa bangsa Indonesia saat ini semakin keras dideru oleh budaya populer. Dunia musikpun sudah masuk kedalam dunia industri. Solusinya menurut saya, pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus lebih bijak. permasalahannya, apakah mungkin mengharapkan muncul dari pemerintah sekarang ? Saya kok ragu ya...

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS