Boleh dibilang itu adalah invasi Malaysia ke tanah kita. Invasi yang
tak membahayakan, karena apa sih yang bisa membahayakan dari sebuah
karya seni itu?
Dan lagi, invasi itu hanya dilakukan oleh segelintir musikus saja.
Puncaknya? Ya hanya Siti Nurhaliza itu saja. Invasi yang terbatas,
sehingga industri musik kita pun tak pantas panas.
Namun beda dengan apa yang dialami oleh negara tetangga kita itu.
Ternyata tanpa pernah kita sadari bersama-sama, para musikus kita sudah
mengancam industri musik mereka. Beberapa waktu lalu, ada selentingan
menguar bahwa pemerintah Malaysia akan membatasi masuknya musik-musik
Indonesia ke wilayah mereka. Hal ini bisa terjadi berdasar pada
kenyataan yang memang mengenaskan, bahwa produksi musik lokal mereka
turun dari tahun ke tahun gara-gara invasi musikus kita. Bila di tahun
1996 keuntungan pasar musik lokal bisa mencapai 945 milliar (dalam
rupiah), tahun 2008 ini hanya mencapai 180 milliar saja.
Pemusik lokal tak digemari di sana. Publik Malaysia lebih memilih
untuk mendengarkan lagu-lagu kita, seperti Radja, Ratu, Dewa, atau
Peterpan. Musik asal Indonesia mendominasi radio juga televisi
Malaysia. Bahkan prosentase yang ada, musik Indonesia mengambil jatah
hingga 75 % di sana.
Pemerintah berencana membatasi dan mencekal, dan persatuan radio
swasta mereka pun resah. Bagaimana tak resah? Bila hanya lagu-lagu
Indonesia saja yang laku di sana?
Proses pencekalan sebenarnya sudah terjadi sangat lama. Apapun yang
asalnya dari Indonesia, dalam hal ini tentu saja menyoal karya seni,
akan terkena cekal bila terlalu mendominasi. Pada 5 Desember 2007
pementasan barongan pernah kena cekal, tak diperbolehkan lagi unjuk
gigi di event-event resmi. Lantas di jalur musik, Ratu dan Sheila on 7
pun pernah dilarang masuk lagi kesana. Alasannya? Sheila on 7 dan Ratu
dianggap tak santun karena menggunakan kata-kata yang seronok untuk
judul hit singlenya.
Cekal demi cekal terus berlanjut. Gejolak pun tentu saja ada. Di
berbagai bilik chat, komentar pedas melayang menyayangkan keputusan
pemerintah Malaysia.
Terus bagaimana dengan musisi kita? Mereka ternyata tak terlalu
terusik. Rossa yang lagu-lagunya laku keras di sana memang
menyayangkan. Namun D’Massive, band yang tengah naik daun dan
dielu-elukan publik Malaysia menanggapi semuanya dengan santai.
“Kita sih santai saja. Tanggal 17-19 Oktober nanti kita juga mau
konser di situ kok,” ujar Rian sang vokalis saat ditemui di Blok M
Plaza, Jakarta Selatan, Rabu (10/9) malam.
Begitu pula dengan Ebiet G. Ade.“Saya pikir penyanyi kita tidak dirugikan dengan adanya pembatasan
itu, sebab selama ini mereka ke sana juga hanya sebagai sambilan saja,
omzetnya tentu saja lebih besar yang di dalam negeri.” begitu jelasnya.
Bila proses pembatasan masuknya musik Indonesia akhirnya memang jadi
dilaksanakan, Malaysia memang terkesan tak adil. Toh kita sendiri juga
tak pernah membatasi masuknya karya seni mereka ke Tanah Air. Bahkan
Siti Nurhaliza pun malah dielu-elukan dengan gegap gempita di sini.
Menyikapinya, bolehlah kita jadi menghujat, namun akan lebih baik
lagi bila kita juga jadi bercermin. Belajar dari sikap pemerintah
Malaysia itu, yang sebenarnya hanya mencoba untuk melindungi seni dalam
negerinya sendiri, hanya terlalu mencintai budaya ciptaan sendiri saja.
Bila kita bisa bersikap sama, tapi tentu saja dengan implementasi yang
lebih cerdas ketimbang membetot paksa telinga masyarakat seperti yang
dilakukan oleh Malaysia itu, mungkin saja kebudayaan-kebudayaan serta
pulau-pulau kita tak lagi akan terampas di masa yang akan datang.