| Produk Prie GS |

 Ingin memiliki buku diatas? Hubungi: team@priegs.com
|
| Gallery |
 PrieGS Foto bersama dengan Andrie Wongso dkk |
| Who's Online ? |
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 1
Tidak ada Anggota Online.
Online Hari ini : 39
Online Bulan ini : 1164
Total Hits : 107061 |
|
|
|
|
| Berita /
Serambi |
|
| Jika Hidup Kenyang Hinaan | | Oleh priegs |
| Sabtu, 23-Mei-2009, 08:33:37 |
1102 klik |
 |
 |
|
|
| Setidaknya dalam lima tahun terakhir terjadi dua penembakan brutal di
Amerika dengan pelaku yang nyaris sama; sama-sama pemuda imigran yang
hidupnya kenyang dihina. Mari kita bayangkan keadaan terhina itu. Ya
begitulah rasanya. Meriangnya sampai ke jiwa. Jika melihat sang
penghina rasanya ia hendak kita lumat hingga selumat-lumatnya. Cara
paling sehat untuk membuang perasaan terhina ini adalah dengan cara
menyalurkan dengan segera. Sayang cara ini tidak mudah karena berbagai
keterbatasan. |
|
|
Pertama adalah keterbatasan hukum. Melumat begitu
saja para penghina, jatuhnya cuma akan melanggar hukum. Padahal tak
setiap dari kita kuat dan berani melanggar hukum. Kedua adalah
keterbatasan kita sendiri. Contoh kedua ini dililustrasikan dengan baik
oleh maestro lawak Jawa kegemaran saya: Junaedi, di salah satu
kasetnya. Saat itu ia bercerita tentang istrinya yang digoda lelaki
iseng di jalanan. Sebagai suami terhormat ia marah luar biasa dan
bersiap melabrak sang penggoda. Untung kemarahan itu tidak mengganggu
akal sehatnya. Sebelum main labrak ia bertanya lebih dulu keadaan sang
penggoda itu. "Tinggi besar," jawab sang istri. Junaedi surut setindak
dan gantinya cukup memberi nasihat bijak, "Ya sudah, besok jangan lewat
jalan itu lagi".
Psikologi seperti Junaedi itulah yang
kadang-kadang kita derita. Tak mudah menyalurkan perasaan terhina
karena banyak sekali batasannya. Jika cuma batasan hukum, kita mudah
menerimanya karena ia menghuni keadaan banyak orang. Tetapi jika
keterbatasan itu berpusat pada diri sendiri ia akan menjelma jadi
depresi.
Dua pelaku penambakan brutral di Amerika itu adakah
anak-anak muda pemberani? Tidak. Mereka butuh menabung keberaniannya
bertahun-tahun. Itulah tabungan yang setorannya adalah akumulasi hinaan
yang berlangsung setiap hari. Jika anak-anak ini bicara, cuma disambut
gelak tawa sekitarnya karena bahasa Inggris mereka yang dianggap aneh.
Ketika bicara cuma menjadi tertawaan, diam adalah sebuah pilihan. Diam
sepanjang hayat sambil memendam kemarahan itulah yang memupuk nyali
untuk membunuh. Dan nyali itu tak bisa begitu saja disetarakan dengan
keberanian karena setelah penembakan itu, mereka mengerti kalkulasinya.
Mereka memilih bunuh diri katimbang menghadapi kenyataan.
Begitu
berat hidup ini jika setiap kali harus menanggung hinaan. Padahal sulit
sama sekali menghindari perasaan terhina itu karena jumlahnya banyak
sekali, baik yang datang dari orang lain maupun yang datang dari diri
sendiri. Hinaan dari pihak lain jelas sumbernya: para pendengki.
Tak
sulit mencari siapa pendengki karena naluri itu juga bersemayam di
dalam diri kita sendiri. Juga tak sulit menemukan sumber hinaan dari
diri sendiri. Karena semakin lemah kedudukan kita, kekuatan orang lain
akan terasa sebagai derita. Semakin gagal diri sendiri, semakin terhina
kita setiap melihat sukses tetangga.
Jadi, pada dasarnya, sulit
sekali menghindari dari perasaan terhina itu karena ia bisa datang
kapan saja dan menyerang siapa saja, baik yang tidak maupun yang
disengaja. Maka hidup ini boleh terhina, asal kadang-kadang belaka.
Sekali terhina saja sakitnya luar biasa. Ada yang cuma sekali tapi
kesumatnya terbawa mati. Apalagi jika hinaan itu datang berkali-kali.
Apalagi jika bukan cuma berkali-kali tetapi terhina itulah selalu
kedudukannya. Bisa dibayangkan, betapa kalau bisa, ia tidak cuma akan
menembaki siapa saja tapi kalau perlu akan menumpas seluruh isi dunia.
Benci dan kemarahan itu, jika sudah menyala, tak jelas di mana tepinya.
Begitu
berbahaya keadaan terhina itu sehingga penting sekali mengurangi jumlah
penyebabnya. Padahal penyebab itu kadang remeh dan tidak pula kita
sengaja, misalnya: jika Anda memasak dan tetangga kebagian cuma uapnya. |
| |
| Ada 2 komentar tentang artikel ini : | Prie GS @61.5.40.19 berkomentar, Sabtu, 19-September-2009, 04:34:19 Ah Anda terlalu. Besok biarlah saya yang nyalamin Anda. | | s.rizal @125.163.187.210 berkomentar, Selasa, 11-Agustus-2009, 23:10:37 refleksi ini memang benar, ada orang yg tiba2 bs jd brani, tp aku adalah orang yg bnar-bnar harus mengumpulkan kberanian trlbih dahulu sebelum melakukan sesuatu. bahkan saya sdh 2 x ktemu sama mas prie, tp hanya utk berjabat tgn saja saya tdk brani. saya hrs brkali-kali mnguatkan diri utk bersalaman, tetapi saat kberanian itu muncul, mas prie nya sdh tdk di hadapan ku | |
Tulis Komentar Anda di sini...
|