Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Saat beraksi di Balikpapan
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 1

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 60
Online Bulan ini : 1235
Total Hits : 106323
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Serambi
Orang Kalah
Oleh priegs
Sabtu, 23-Mei-2009, 08:35:37 1724 klik Send this story to a friend Printable Version
Saya pernah menjadi orang kalah. Bukan kekalahan besar, tetapi sekadar kekalahan dalam lomba vocal group di sekolah. Tapi karena main gitar masih menjadi sisi penting hidup saya, maka seluruh dunia ini rasanya tak ada yang lebih penting dari gitar. Jadi cukup hanya dengan kalah lomba vocal saya merasa dunia otomatis runtuh. Butuh berhari-hari bagi saya untuk berani keluar kamar kos dengan tenang. Rambut saya cukur pelontos, kuku jari saya potongi dan dua hari saya membolos. Untuk apa semua ini? Untuk marah dan protes pada keadaan.
Sementara keadaan yang saya protes itu ternyata tak menggubris protes saya. Matahari tetap muncul dan tenggelam seperti biasa. Hanya karena saya sedang sedih misalnya, matahari juga tidak otomatis mengucapkan belasungkawa, untuk mau sejenak terbit terbalik muncul dari barat dan tenggelam di timur. Ketika ini benar-benar terjadi tentu saya akan merasa gembira dan ditemani. Saat seluruh penduduk dunia kaget, mereka pasti bertanya-tanya, ada apa ini? "Ooo ini ada orang yang tinggal di sebuah kampung di ujung kota Semarang sana, namanya Prie GS sedang murung karena kalah lomba vocal group!"

Betapa senang kalau hal itu benar-benar terjadi. Tapi nyatanya tidak. Tak peduli apakah saya memangkas rambut atau sekalian memotong kepala karena kekalahan itu bakul-bakul di pasar tetap berjualan seperti biasa. Mereka sama sekali tidak pernah tahu kekalahan saya. Jangankan cuma kalah lomba, sekalipun vocal group itu tidak pernah ada di dunia, apa peduli mereka.

Pendek kata, sebetulnya tidak ada yang peduli dengan urusan kita, termasuk kekalahan, kemarahan, kejengkelan, kedengkian kita, kecuali diri kita sendiri. Kita terlalu serius pada urusan diri sendiri sementara orang lain juga pasti terlalu sibuk dengan urusan mereka. Maka menyangka bahwa mereka sibuk mengurus urusan kita termasuk kekalahan kita adalah sebuah kekeliruan. Tetapi keliru prasangka itulah yang diteruskan hingga hari ini.

Jika sebuah partai kalah, atau seorang caleg gagal misalnya, langit memang terasa runtuh. Tapi langit yang runtuh itu pasti cuma langit mereka. Langit yang asli masih baik-baik saja. Mereka merasa orang di seluruh dunia tengah menyorakinya. Padahal tidak. Jangankan untuk menyoraki, untuk menghafal nama-nama mereka saja warga dunia ini tak punya waktu. Tapi karena mereka menyangka kita semua ini tengah gembira melihat si kalah itu kecewa dan malu, tergeraklah si kekalahan itu untuk menyalahkan daftar pemilih bermasalah, mengobrak-abrik Kantor KPU sampai hendak memboikot hasil pemilu.

Padahal yang menyoraki kekalahan itu tidak ada. Kalau pun ada jumlahnya paling sedikit saja. Penyorak terbesar pasti diri kita sendiri. Untuk itulah kenapa kita butuh menyalahkan dunia seisinya untuk sakit hati atas kekalahan ini.

Ketika saya kalah lomba itu, tak pernah terlintas sekalipun di pikiran saya untuk menyalahkan diri sendiri, untuk mengakui kemenangan lawan dan untuk menghargai keputusan dewan juri. Ketika saya sedang kalah itu yang muncul adalah tudingan yang seluruhnya mengarah ke pihak lain. Itu juri pasti kena suap, itu si pemenang pasti cuma beruntung, atau itu penontonnya pasti goblok semua. Sama sekali tak peanh saya pikir bahwa kekalahan saya itu karena mutu permainan gitar saya yang jelek dan lagu saya yang buruk mutunya.

Jika partai saya kalah dan saya adalah caleg gagal, sulit untuk menghentikan sumber kekalahan itu cukup di satu soal saja: yakni karena saya memang benar-benar tak disukai massa. Menjadi kalah adalah saatnya untuk mengada-ada. Namanya juga mengada-ada, ia pasti mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
 
Berita Serambi Lainnya
.Menggembosi Amarah
.Menguras Bak Mandi
.Istri Sakit
.Lulus Seratus Persen
.Kucing Kawin
.Bekerja itu Sakit
.Jam Terbang
.Memotong Rumput
.Perjuangan Untuk Bergembira
.Anak Saya Kalah Lomba

Komentar ...
Ada 3 komentar tentang artikel ini :

ikhsanfadhil @125.160.61.39 berkomentar,
Selasa, 02-Februari-2010, 14:51:51
Masya Allah. Pengamatan Mas Prie betul-betul mengena pada sasarannya. Saat membaca tentang "Orang Kalah" ini saya jadi semakin menyadari bahwa saya pun sangat sering menyalahkan orang lain ketika saya kalah. Pada ya Mas yang menyebabkan kita kalah itu bukan orang lain, tapi adalah diri kita sendiri. Ya Allah bimbinglah hambaMu ini agar senantiasa dapat beristighfar dari keinginan untuk selalu menyalahkan orang lain. Amin.

Prie GS @61.5.40.19 berkomentar,
Sabtu, 19-September-2009, 04:33:05
Lily, setau saya, saya selalu berusaha membalas SMS yang masuk. Kecuali lupa atau kehabisan pulsa.

Lily @125.166.237.11 berkomentar,
Jumat, 12-Juni-2009, 16:36:52
Saya merasa seperti " si kalah itu kecewa dan malu " karena SMS Mas Prie komentar tentang buku terbarunya yang " 3 Pil Kecerdasan Dosis Tinggi ". Tidak di reply apapun. Saya Pikir Mas Prie pasti respon balik, karena Suami saya menyukai buku terbaru Anda.Tapi ternyata.....

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS