Prie GS, Sang Penggoda Indonesia. Budayawan & Motivator.
Produk Prie GS
3 Pil Kecerdasan

hidup bukan hanya urusan perut
Ingin memiliki buku diatas?
Hubungi: team@priegs.com
Live Traffic
Gallery


PrieGS
Saat beraksi di Balikpapan
Who's Online ?
Selamat Datang Tamu !
Tamu online : 3

Tidak ada Anggota Online.


Online Hari ini : 62
Online Bulan ini : 1236
Total Hits : 106304
Komentar Terbaru
udi di Bekerja itu Sakit
djoko pratomo ms di Menggembosi Amarah
djoko pratomo mangkoesasmito di Lulus Seratus Persen
asep ruhiyat di Menggembosi Amarah
rizal di Daftar Klien
Haryo di Belajar dari Kecerdasan Malaysia
herman ginting di Daftar Klien
echo di Senyum Orang Gila
winata1 di Ada Nyamuk Berpelukan
agus vico di Dua Jam Sebelum Keberangkatan
agus vico di Lulus Seratus Persen
dheni di Anak Kucing (3)
eka bamba s di Shuttlecock di Atas Genting
eka bamba s di Ada Nyamuk Berpelukan
Eva di Apa Sebetulnya Usaha Kita?
Berita / Serambi
Lulus Seratus Persen
Oleh priegs
Selasa, 25-Mei-2010, 07:21:51 393 klik Send this story to a friend Printable Version
Saat itu sekolahku lulus seratus persen, dengan aku menjadi bagian dari kelulusan. Kami semua berteriak dalam kegembiraan, tetapi anehnya kenapa masih ada kesedihan diam-diam.

Aku menyangka kesedihan itu bersumber dari perpisahan kami dari  kenangan: dari sekolah, guru-guru, teman-teman, dan penjaga. Soal-soal yang semula biasa-biasa saja, baru ketika hendak  berpisah, semuanya menjadi muncul dan berharga.
   
Saat itu, imajinasi kesedihanku baru sebatas menjangkau wilayah itu, tetapi tidak kini. Ada lagi agaknya sumber kesedihanku yang pelan-pelan terbaca di saat ini. Dulu sumber kesedihan ini tersimpan dalam, tanpa aku tahu, tetapi terus terasakan. Terasa tapi tidak tahu, itulah yang membingungkan.
   
Kini, tanpa ragu aku menebak sumber kesedihan misterius itu, ia tak lain adalah nilai matematika di ijazahku. Nilai itu cuma enam, terjelek di antara seluruh nilaiku. Aku menyangka nilai ini muncul lantaran kebencian guru matematikaku kepadaku. Diam-diam aku marah  sekali pada guru itu. Nilai enam ini adalah noda di ijazahku yang akan terpatri di situ nyaris selamanya. Sekian lama aku sakit oleh nilai itu karena dan hampir saja aku menolak untuk melihat ijasah itu.
 
Kini aku malu sekali pada prasangkaku. Guru itu ternyata adalah guru yang amat baik kepadaku. Seorang guru lain diam-diam meyakinkanku, jika ukurannya adalah hasil ujian asli, nilai matematika bukan enam, tapi empat. Angka enam itu ternyata sudah  terlalu tinggi untuk kemampuanku dan guru itulah yang membelaku. Jika cuma mengandalkan hasil ujian, aku adalah murid yang tidak lulus.

Itulah kenapa, meskipun aku ikut-ikutan bergembira, tetap saja ada kesedihan tersembunyi di hatiku. Karena ternyata kelulusan itu sejatinya bukan milikku. Itulah kenapa kebohongan itu tak bisa lenyap dari hati walau tak ada orang yang tahu. Menikmati sesuatu yang bukan milikku ternyata hanya kegembiraan semu.

Dan nilai ijazah palsu itu ternyata memang hanya kuat membelaku seperti nilai aslinya, cuma empat itu sajalah,  sesuai dengan kemampuanku. Buktinya seluruh sekolah lanjutan yang kuanggap favorit, yang kusangka sesuai dengan derajatku, semuanya menolakku. Semua sekolah itu pasti membutuhkan nilai delapan asli untuk lulus seleksi, bukan nilai enam itu pun palsu.

Akhirnya, satu-satunya sekolah yang mau menerimaku adalah sebuah sekolah  baru yang sedang butuh murid, yang masuk sore pulang petang dengan gedung menginduk, itupun bobrok pula.

Tak terkira rasa rendah diriku jika harus berpapasan dengan anak-anak yang masuk pagi. Ketika mereka pulang kami berangkat dan dari pandangan mereka aku tahu, mereka mencibirku. Keterbalikan jadwal ini sungguh setara rasanya dengan keterbalikkan nasibku. Tetapi beginilah memang mestinya murid dengan nilai empat ini. Bahkan masih ada sekolah yang mau menerimaku pun mestinya sudah sebuah anugerah.

Tapi di  sekolah bobrok inilah ternyata aku menemukan teman-teman terbaik, guru-guru terbaik, lingkungan terbaik dan banyak sekali kebaikan lain yang tak pernah aku bayangkan. Begitu menyadari nilaiku cuma empat, dan cuma sekolah inilah yang mau menerimaku, rasa cintaku pada sekolah ini tumbuh pelan dan pasti.

Akhirnya seluruh  usaha  kupompakana agar yang empat ini menjadi enam, tujuh dan  seterusnya, sekuatku, sebisaku, yang penting aku tidak lagi menipu. Ternyata, menyangkut soal nilai ijazah itu, yang paling berharga bukanlah besarannya, melainkan kejujurannya. Empat yang kuterima sebagai keaslikanku ternyata jauh lebih berguna katimbang enam tapi palsu.

(Prie GS/bnol)
 
Berita Serambi Lainnya
.Menggembosi Amarah
.Menguras Bak Mandi
.Istri Sakit
.Kucing Kawin
.Bekerja itu Sakit
.Jam Terbang
.Memotong Rumput
.Perjuangan Untuk Bergembira
.Anak Saya Kalah Lomba
.Anggrek Melengkung

Komentar ...
Ada 2 komentar tentang artikel ini :

djoko pratomo mangkoesasmito @64.255.180.153 berkomentar,
Kamis, 12-Agustus-2010, 22:40:30
betul alias bener sekali, bukan dua kali atau sejuta kali, fenomena katrolan sudah jadi trend bahkan budidaya yang mereka lestarikan, tanpa sungkan lagi bilamana potret pendidikan jadi tercabik, ternoda .. sekedar nginceng saja atau numpang lewat .. tabik mas prie-gs .. saking pemerhati jalanan beroda tiga, nyanthol di pe-el-en ungaran suueejuuk nian hati ini, salam mawon .. isyaratkan nurani sampai mati, suwun

agus vico @202.43.182.178 berkomentar,
Senin, 07-Juni-2010, 15:40:40
mas pri sukses slalu mas, moga tambah berkah untuk keluarga & karir.
jangan lupa slalu memberikan tertawa kepada orang

Tulis Komentar Anda di sini...

Nama
Email
Website
Komentar
Sisa Karakter
Security Code

CREDITS
Copyright © 2009, PrieGS.Com
Supported by LumbungMedia.Com

^  
Prie GS